Pengumuman Pemenang LKT Esai 2014

Pengumuman Pemenang LKT Esai 2014

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

200 Juta Ton Bauksit di Perut Bumi Ketapang: Potensi Besar SDM Lokal Kurang

Oleh: Kiram Akbar

Salah satu lokasi pertambangan bauksit di Kabupaten Ketapang

Ketapang – Tak ada daerah di Kalbar dan sedikit sekali di Indonesia yang di perut buminya menyimpan 200 juta ton bauksit selain di Kabupaten Ketapang. Belum lagi emas, timah hitam, zircon, hingga pasir kuarsa, yang menggoda liur investor.

Lokasinya sporadis, mulai dari hutan dan tanah kritis hingga di bawah dapur orang pun memendam bauksit. Potensi raksasa dengan angka deposit fantastis ini sejak 2005 sudah digarap PT Harita Prima Abadi Mineral. Dimulai dengan eksplorasi dan kini eksploitasi secara besar-besaran.

Bauksit terbanyak dikirim ke Cina, raksasa ekonomi dunia yang selain menguasai modal dan teknologi, terhitung pakar pengelolaan logam terkemuka dunia. Bauksit diolah menjadi aluminium digunakan sebagai kaleng minuman sampai konstruksi pesawat terbang.

Harta karun ini terbesar di Kendawangan, Marau, Air Upas, Sandai dengan deposit di atas 200 juta ton dikuasai oleh PT Harita sebagai pemilik konsesi. Yang menarik, hingga 2013 nanti Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU No. 4/2009) menegaskan tidak boleh lagi ekspor bauksit.

“PT Harita sudah berencana mendirikan dua pabrik pengolahan bauksit dengan investasi Rp 4,5 triliun per pabrik. Untuk persyaratan deposit minimal 120 juta ton sudah terpenuhi,” ungkap Ismet Siswadi, Humas PT Harita kepada Equator, Senin (23/1).

Untuk daerah Kendawangan dan Air Upas saja deposit sekitar 50-80 ribu ton. Belum lagi Ketapang yang jauh di atasnya. Pabrik nantinya mengolah bauksit menjadi alumina.

“Saat ini sedang digagas dan dibicarakan dengan pemda untuk seluruh deposit ini akan kita gali. Akan dibangun dua unit pabrik pengolahan alumina atau smelter istilah kasarnya,” tambah Ismet.

Kalau PT Harita tidak meleset janji, pabrik pengolahan bauksit di Ketapang akan menjadi yang pertama di Indonesia. Singkat kata, Ketapang akan menjadi kawasan paling makmur di bumi Khatulistiwa bila kekayaan di bumi Indonesia ditujukan untuk kemakmuran rakyat, sebagaimana amanat UUD 1945.

Pabrik di Ketapang juga diprediksi sebagai penampung bahan baku se-Indonesia. “Persoalannya bukan tidak boleh dibuat di sini (Ketapang, red) tapi harus di Indonesia. Selama ini dari Ketapang hanya mengekspor bahan baku,” jelas Ismet.

Pembangunan pabrik juga berdampak pada kualitas, yang selama ini kualitas bauksit di Ketapang masih variatif. Karena itu ekspor selama ini tergantung dari pesanan pembeli (buyer). Jika ada pabrik kualitas dapat disejajarkan lewat pengolahan.

“Misalnya kalau dulu ada kualitas 3:7. Maksudnya campurannya karena tidak semua biji bauksit di situ. Bisa saja campur dengan pasir kuarsa atau zirkon. Tapi kalau sudah industri kan dapat kita olah semua,” terangnya.

Dampak lainnya, pemasukan bagi daerah dalam APBD. Pendapatan bagi daerah diprediksi akan meningkat lebih 100 persen, dari Rp 18 miliar menjadi Rp 40 miliar per tahun.

“Karena yang diekspor sudah alumina, barang jadi. Kita berhak menerima PBB, berapa luas izin tambangnya harus dibayar. Ketika berproduksi daerah juga dapat royalti,” tuturnya.
Masalah SDM

Penyerapan tenaga kerja jika pabrik dibangun mampu menyerap seribu orang untuk seluruh kualifikasi. Artinya akan ada 2.000 tenaga kerja yang terserap.

“Kalau satu pabrik dengan kapasitas 20 juta ton per tahun memerlukan sekitar 1.000 orang untuk semua kualifikasi seperti, skill, unskilled, medium, atau lainnya,” terang Ismet.

PT Harita layak bersyukur lantaran pemerintah merespons rencana pembangunan itu. Pemda Ketapang membantu perusahaan untuk bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Bahkan, kata Ismet, pemerintah telah membentuk tim sinergisitas pertambangan dan perkebunan yang diketuai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Mahyudin.

“Masalahnya barang ini (bauksit, red) kan lokasinya macam-macam. Ada yang di kebun atau di hutan. Nah, pemerintah mendorong bekerja sama dengan pihak-pihak lain melalui tim sinergisitas itu. Ini yang sedang kita garap terus,” terang Ismet.

Diharapkan, ketika persiapan 2013 semuanya sudah clear. Jika belum target waktu belum beres juga, bisa jadi Ketapang akan kalah saing dengan perusahaan lain yang mungkin membuat pabrik pengolahan.

“Rencananya 2013-2014 bahan tambang akan menumpuk. Kemungkinan 2015 baru akan beroperasi. Karena untuk membangun pabrik itu tidak gampang. Harus membangun infrastruktur, konstruksi maupun SDM-nya. Tapi 2014 pabrik itu sudah harus dipersiapkan dengan baik, kalau perlu sudah bisa operasi,” harapnya.
Dilema SDM

Meski mengaku mengakomodasi tenaga kerja lokal, namun Ismet mengaku khusus tenaga ahli masih didatangkan dari pulau Jawa. Kira-kira sekitar 20 persen tenaga kerja di PT Harita dari penduduk lokal. “Tentu tidak pada bidang-bidang yang membutuhkan skill seperti ahli geologi ataupun ahli las. Mereka kebanyakan dari Jawa,” ungkapnya.

Terkait dengan tenaga-tenaga lulusan Politeknik Ketapang (Politap), Ismet mengaku ada yang sudah mulai magang. Begitu mereka tamat, lowongan kerja sudah penuh. Tapi tentu tetap akan dipertimbangkan. Memang saat ini saya persilakan mereka untuk melamar semua. Beberapa persen ada yang diterima.

“Tidak mungkin juga mereka yang baru lulus diterima semua kemudian memecat tenaga kerja yang lama. Tapi mungkin mereka akan diover ke Tayap. Mereka juga D3, tentu perlu waktu. Selama ini masih tenaga kerja dari Jawa dan sudah berpengalaman,” jelasnya.

Masih rendahnya SDM lokal juga diakui Bupati Ketapang Henrikus, yang mengatakan rendahnya sumber daya manusia (SDM) menjadi kendala ketika memasuki dunia kerja. Meski investasi di Ketapang, tak jarang perusahaan justru mempekerjakan orang luar ketimbang putra daerah untuk posisi strategis.

“Itulah buah simalakama. Kita ini kan siap tenaga yang lower saja (bawah), yang middle (tengah) tidak punya, apalagi yang top (atas),” kata Henrikus.

Jika tak segera diantisipasi, kata dia, kondisi ini akan menimbulkan masalah. Pasalnya pemberlakuan UU Minerba pada 2013 mengharuskan adanya industri. “Sedangkan Ketapang masih belum memiliki tenaga-tenaga terampil untuk industri. Karena itu mau tak mau Ketapang harus menyiapkan tenaga-tenaga terampil jika tak mau ketinggalan,” ujar Henrikus.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Henrikus menegaskan Politeknik Ketapang harus dibenahi. “Ketika dari luar yang datang, nah ini yang menjadi masalah. Lalu dianggap tidak menyerap anak daerah. Dia terserap tentu harus ada kemampuan teknis, pembekalan. Yang menjawab tantangan itu Politap,” kata dia.
Comdev

Terkait program community development (Comdev), Ismet Siswadi mengaku pihaknya boleh sedikit berbesar hati. Pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat tetap menjadi perhatian. Selain membangun infrastruktur maupun sarana prasarana, perusahaan juga memberikan bantuan modal kepada masyarakat.

“Kita mengoptimalkan CSR dan Community Development (Comdev)-nya seperti bantuan pertanian di Jelai Hulu, bantuan permodalan ikan, termasuk kolam ikan. Meski bukan dalam skala besar, tapi itulah cikal-bakalnya. Masalahnya mereka siap ndak mengelola itu. Kemudian bantuan-bantuan jalan maupun genset,” ungkapnya.

Pihaknya juga komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ismet mengatakan pertambangan bauksit yang selama ini dilakukan PT Harita sama sekali jauh dari zat-zat berbahaya. Berbeda dengan penambangan emas yang harus menggunakan air raksa.

“Kita hanya menggunakan air saja. Itu pun ada bak-bak yang menampungnya. Memang ada kemarin yang bocor dan air menjadi keruh. Tapi dalam penambangan bauksit tidak menggunakan zat-zat kimia,” tegasnya. (KiA)

Sumber: Equator-news.com
Rabu, 25 Januari 2012
Diakses: 31 Januari 2012 | 23:39
Didokumentasikan: 31 Januari 2012 | 23:39

2 comments to 200 Juta Ton Bauksit di Perut Bumi Ketapang: Potensi Besar SDM Lokal Kurang

  • Maya

    Saya baru membaca laman ini,, senang rasanya melihat pemaparan diatas yang kelihatan sangat baik. saya harap pemaparan tersebut tidak hanya tutur kata saja tetapi juga kenyataan yang sebenarnya. saya sebagai anak Ketapang Asli berharap ketapang tidak akan bernasib sama dengan pulau bintan yang sekarang sudah ditutup. ada 3 hal yang ada dibenak saya untuk saat ini
    1. saya berharap royalty yang diberikan perusahaan benar2 digunakan untuk kepentingan rakyat salah satu contohnya sekarang jalan menuju ke kendawangan rusak parah dengan adanya peningkatan APBD seharusnya tidak ada lagi alasan keterbatasan dana
    2. bauksit memang tidak menggunakan zat-zat berbahaya karena dia merupakan endapan laterit, akan tetapi limbah dari hasil pencucian bauksit atau pengolahan yang kelak katanya akan dibangun smelter mempunyai tingkat kebasaan yang sangat tinggi (Bisa dilihat di beberapa jurnal international,, tertulis demikian) dan tolong hal ini menjadi sangat diperhatikan.
    3. Mungkin bila perekrutan tenaga ahli dari Ketapang masih belum banyak saya masih memaklumi karna memang SDM nya belum siap. saran saya bila perusahaan dan pemerintah benar2 concern katanya untuk kepentingan rakyat pertama: berikan beasiswa bagi anak2 daerah ketapang untuk memperoleh pendidikan ilmu pertambangan terbaik agar mereka bisa membangun sekaligus menjaga daerahnya sendiri, dua: jangan hanya memberi bantuan modal, berikan juga pelatihan pengelolaan baik dari segi produksi, managemen dan keuangan. ini adalah INVESTASI jangka panjang,, bukan bahagia sesaat menderita kemudian, bukan pula hanya untuk kepentingan sebagian orang
    Untuk Ketapang yang LEBIH BAIK DAN LESTARI TANPA PENCEMARAN.

  • TERA

    Kita hanya menggunakan air saja. Itu pun ada bak-bak yang menampungnya. Memang ada kemarin yang bocor dan air menjadi keruh. Tapi dalam penambangan bauksit tidak menggunakan zat-zat kimia,” tegasnya. (KiA)

    mungkin orang awam percaya dengan penyataan di atas, perombakan permukaan tanah saja sudah berdampak buruk. karena merubah posisi alamiahnya. tanah bagian bawah memiliki unsur2 yang berbeda dengan tanah bagian atas. jika posisinya di balik, maka akan terjadi reaksi kimia, karna akan terkontaminasi oleh udara dan sinar matahari. hal ini akan merusakk lingkungan.

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>