Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

Ada alasan bagi Kalbar

DENGAN pici pendek, Gubernur Kadarusno memang agak lain dari waktu ia mengenakan pakaian tempur RPKAD-nya. Tapi setidaknya dalam satu hal tokoh bertubuh tinggi ini masih seperti ketika ia jadi “Kolonel Rimba” beberapa tahun yang lalu: ia seolah tak pernah capek. Di depan 40 wartawan se Indonesia yang bersidang di Pontianak pertengahan Mei, Kadarusno bisa berbicara jelas, sistematis, tiga jam di depan tabel dan peta tanpa putus. Ia mengesankan sebagai seorang yang tahu secara terperinci situasi daerahnya yang lebih luas dari gabungan Jawa-Bali-Madura dan masih lebat itu. Ia juga mengesankan sebagai seorang yang–seperti halnya Ali Sadikin–didorong oleh rasa urgensi untuk bertindak.

Kalimantan Barat memang punya alasan buat didesak maju. Wilayah ini — yang hutan-hutannya sudah banyak ditebang dan kini mengalami akibat krisis harga kayu di pasaran dunia tak bisa terus bertopang pada karunia alam yang mudah. Sebab itu agaknya Kadarusno menyiapkan sesuatu yang lebih ambisius tapi juga penting bagi masa depan Kal-Bar dan Indonesia: pertambangan.

Di sana, bauxit sudah mulai digali oleh perusahaan AS ALCOA di Tayan, dan tercatat ada 21 macam mineral lain. Yang 25 tahun mendatang bakal penting tentu saja uranium, yang sebagai bahan strategis kini masih dirahasiakan potensinya. Seorang peneliti Perancis yang bekerja pada BATAN di Pontianak hanya mengatakan: “Potensi itu sangat riil”, meskipun penelitian, apalagi penggaliannya nanti, sangat mahal dan juga makan waktu lama. Kekayaan itu milik masa depan, tentu saja. Sedang yang dihadapi adalah masalah masa kini: Kal-Bar yang masih mendatangkan beras 60.000 ton per tahun, dan kenyataan bahwa wilayah ini berada diperbatasan.

Di balik perbatasan itu, di utara, di Serawak, tanda kemakmuran lebih kentara – maklumlah Malaysia memang lebih kaya duluan dari Indonesia. Tapi di samping kemakmuran, juga gerombolan. Sementara di wilayah Indonesia gerilyawan komunis tak lagi ada, di wilayah Malaysia itu kekuatan inti mereka masih sekitar 200 orang.

Dalam posisi sebagai khas wilayah perbatasan semacam itu, Kadarusno berusaha untuk mengurangi orientasi penduduk ke Serawak–satu usaha yang nampaknya dilakukan sejak lama. Misal yang unik ialah pelistrikan di 5 kota (dari 11 kota di sepanjang perbatasan), meskipun, seperti diakui Gubernur sendiri, “mungkin penduduk belum siap untuk itu”. Pelistrikan yang bersahaja itu sebagian besar untuk jalan, untuk “menunjukkan bahwa keadaan sedikitnya sudah lebih baik”, kata seorang pejabat di Ng Merakei sebuah “kota” yang praktis dibangun ABRI .

Salon
Di Kal-Bar, “akal” semacam itu tak bisa disepelekan. Kesejahteraan masyarakat di sini menjadi satu sendi pokok keamanan. Salah satu taktik gerilyawan komunis yang pernah dipakai di sini ialah menarik simpati penduduk. Gerilyawan PGRS-Paraku, seperti diakui para pejabat ABRI di sini, selalu membayar apa yang mereka ambil dari rakyat. Disiplin mereka tinggi. “Tentu saja kita tidak mau kalah”, cerita Kol. Sugondo. Asisten V (Teritorial) dari Kodam XII/Tanjungpura yang dulu Kepala Staf ketika Kol. Kadarusno memimpin operasi dari Korem 121. “Pak Kadar melancarkan 3-K, yakni Kongkrit, Kontan dan Kontinyu –dalam membalas jasa rakyat yang membantu kita”.

Kolonel yang berpengalaman dalam menumpas percobaan “perjuangan bersenjata” PKI di Blitar Selatan ini juga menambahkan, bahwa di Kal-Bar inilah para perwira muda (yang memang banyak ditempatkan) diuji: “atau kau hancur, atau kau jadi besar”. Mereka ini, tambahnya, jangan sampai jadi “perwira salon”.

Dalam banyak hal Kal-Bar memang mirip medan pendidikan setelah lulus bagi kader perwira – khususnya dalam berintegrasi dengan rakyat banyak. Tidak terlalu mudah, bila mereka melihat bahwa rekan sebaya mereka di pasukan pasukan Malaysia tampak lebih “sejahtera”. Gaji pasukan Border Scout Malaysia saja — yang bukan tentara inti –sama dengan perwira I TNI.

Namun mungkin justru karena itu para perwira lulusan AKABRI itu bisa merasa solider dengan anak buah dan masyarakat mereka sendiri. “Di sini, pak”, kata seorang bintara di lapangan heli di Paloh. “ABRI yang membantu rakyat”. Kalimat yang diucapkan agak malu-malu itu memang sukar dibantah, di hampir di tiap tempat di perbatasan.

Dengan suasana seperti itu – satu modal pokok bagi pemerintah di sana tak berarti Brigjen Seno Hartono, Pangdam XII, tak punya masalah. Perwira RPKAD yang berpengalaman dalam pelbagai pertempuran ini dengan cepat bertambah uban di atas pipinya yang terbakar matahari. Tak ada lagi PGRS-Paraku di wilayahnya, dan anak buahnya berhasil menangkap tokoh PKI S.A. Sofyan dalam pemburuan yang mencapekkan (lihat TEMPO, 9 Pebruari 1974). Tapi ia masih harus mempertahankan perbatasan dari infiltrasi gerilya dari utara — sementara dua batalion pasukan telah ditarik, setelah daerah dinyatakan aman. “Memang membiayai dua batalion operasi sangat mahal”, katanya di rumah kecil di Ng Merakai, tempat ia menginap sewaktu dua hari peninjauan. Tapi kita memang menghadapi masa setelah Vietnam jatuh ke tangan komunis.

Dan seperti dikatakan Gubernur Kadarusno di Pontianak, bila untuk merampas 375 pucuk senjata dari PGRS-Paraku saja dibutuhkan waktu 7 tahun, bagaimana bila nanti ribuan senjata sisa perang Vietnam yang kini di tangan komunis dikirim ke Kalimantan?

Pengagamaan
Salah satu cara menghadapi perang yang tak cuma pertempuran senjata itu, bagi Seno Hartono, ialah mengagamakan suku-suku Dayak diperbatasan. Sejauh ini hanya fihak missi Katolik dan Protestan saja yang menyambut usaha itu sementara fihak Islam nampaknya belum banyak bergerak.

Masalah yang mungkin timbul ialah bagaimana bila proses peng-agama-an itu nanti berbentrokan dengan adat tradisionil setempat yang bisa membangkitkan konflik.

Turun dari rumah panjang Dayak di Ensana di mana 40 keluarga tinggal bersama ternak mereka dalam satu ruang yang pengap, Overste Gde Awet, Asisten I Kodam VII, berbisik dengan sopan kepada seorang tokoh Partai Persatuan yang ikut dalan rombongan peminjam: “Dalam meng-Islam-kan mereka sebaiknya tidak perlu tergesa-gesa mengubah adat setempat, yang belum sesuai dengan Islam”. Barangkali itu adalah cara yang tepat, bagaikan Wali Songo di Jawa dulu.

Betapapun dalam soal ini suatu pendekatan anthropologi budaya kiranya sangat penting. Sebab yang perlu dipelihara ialah ketenteraman perasaan rakyat itu sendiri. Kalau tidak, musuh akan mengambil-alih mereka. Dan seperti diingatkan oleh Kol. Mardjans Komandan Korem 121 Alambhana Wanawwai di gedung Kodim yang mengkilap bagus di Sintang, “orang komunis itu tak mengenal compromise”.

Sumber: Majalah Tempo Online
21 Juni 1975
Diakses: 12 November 2011 | 19:43
Didokumentasikan: 12 November 2011 | 19:43

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>