undangan Penyerahan Hadiah Lomba Bidang Perpustakaan 2014

undangan Penyerahan Hadiah Lomba Bidang Perpustakaan 2014

Pengumuman Lomba Perpustakaan Terbaik dan Pustakawan Berprestasi 2014

Pengumuman Lomba Perpustakaan Terbaik dan Pustakawan Berprestasi 2014

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

Entuyut (Nepenthes) asal Kalimantan Barat

Entuyut (Nepenthes) asal Kalimantan Barat / Agustina Listiawati, Chairani Siregar; fotografer, Sugeng Hendratmo. – Cet. 1, April 2008. – Pontianak: Untan Press, 2008. – v, 88 hlm.; 20×15 cm. – ISBN 978-979-17723-2-7

Kalimantan Barat merupakan daerah tropis dengan suhu berkisar antara 24°C – 34°C dan kelembaban yang tinggi antara 60% – 90%, di lewati oleh garis khatulistiwa, memiliki topografi dataran rendah sampai dataran yang berbukit dan juga memiliki berbagai macam hutan, antara lain hutan rawa gambut, hutan kerangas, hutan bakau, dan daerah-daerah yang terbuka akibat hutan-hutan yang rusak oleh aktivitas penduduknya, sehingga tidaklah mengherankan bila provinsi yang kaya akan sumber daya genetik baik flora maupun faunanya, lama kelamaan akan kehilangan sumber daya genetiknya.

Salah satu flora yang sangat unik dan menarik adalah tanaman kantong semar, yang dalam bahasa daerahnya bernama entuyut, di beberapa daerah di Kalimantan Barat di sebut dengan periuk kera, periuk monyet, ketakong dan tarukutn dalam bahasa latinnya disebut nepenthes, dalam bahasa Inggris, pitcher plant. Tanaman ini tumbuh tersebar di seluruh Kalimantan Barat mulai dari hutan yang lembab sampai hutan kerangas, dari dataran rendah sampai perbukitan. Nepenthes yang ada di daerah Kalimantan Barat terdiri dari banyak jenis yang sangat menarik, dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai tanaman hias unik, terbukti bahwa kini sangat digandrungi di negara-negara maju seperti Amerika, Australia, Jepang, Taiwan, Thailand, Inggris dan Jerman, bahkan beberapa spesies telah dibudidayakan di sana secara massal melalui tehnik in-vitro. DI Indonesia kini nepenthes sedang naik daun dan menjadi pusat perhatian bila dihadirkan di pameran-pameran baik tingkat nasional dan daerah, ironisnya catatan mengenai tanaman ini belum kita miliki sama sekali, informasi justru kita dapatkan dari buku-buku yang di tulis oleh bangsa asing. Tanaman entuyut secara umum di Indonesia disebut nepenthes atau biasa juga disebut nep, merupakan tanaman carnivora yang membentuk kantong diujung-ujung daunnya.

Sebenarnya kantong tersebut adalah ujung daun yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi perangkap hewan-hewan seperti lebah, insekta dan hewan lainnya. Kantong ini bervariasi bentuk dan warnanya, terdiri dari sulur, tutup kantong, bibir kantong (perietome), taji dan sayap. Kantong ini berisi cairan nektar sangat menarik bagi insekta untuk berkunjung, dan bila insekta tersebut masuk ke dalam kantong, tidak bisa keluar lagi karena dinding kantong bagian dalam licin dan bentuk bibir (peristome) sedemikian rupa, sehingga hewan-hewan yang tergelincir kedalam kantong, tenggelam dan mati. Nepenthes mengeluarkan enzim yang disebut proteolase, enzim ini dikeluarkan oleh kelenjaryang ada pada dinding kantong di zona pencernaan yang berfungsi sebagai enzim pengurai. Dengan bantuan enzim yang disebut juga nepenthesin, protein serangga atau binatang lain yang terperangkap di dalam cairan kantong, kemudian diuraikan menjadi zat-zat yang lebih sederhana, seperti nitrogen, fosfor, kalium dan garam-garam mineral. Zat-zat sederhana inilah yang kemudian diserap oleh tumbuhan sebagai nutrisi untuk kebutuhan hidupnya, sehingga tidaklah mengherankan di hutan rawa gambut, dimana nutrisi terperangkap di pohon-pohon dan lingkungan asam yang miskin hara masih bisa menjadi habitat beberapa jenis nepenthes ini.

Dalam sistim klasifikasi tanaman termasuk ke dalam famili Nepentheceae, dan klnl nepenthes yang telah teridentifikasi didunia berjumlah 85 spesies, masing-masing spesies bervariasi dalam warna bentuk dan ukuran kantong, demikian pula hasil silangan alami di habitatnya

Di Kalimantan Barat, nepenthes telah lama dikenal oleh masyarakat karena selalu digunakan untuk keperluan sehari-hari, namun belum pernah terlintas di benak masyarakat bahwa tanaman ini dapat berpotensi sebagai tanaman hias. Masyarakat setempat hanya menggunakan kantongnya (dari spesies tertentu) untuk menanak nasi atau membuat lontong berisi ketan,  sedangkan saat pameran perangko internasional se Asia ke-2O dari tanggal 3 – 12 Agustus 2OO7 di Bangkok, tanaman ini diabadikan dalam perangko Indonesia seri flora (nepenthes).

Tanaman ini tumbuh memanjat, sehingga dapat mencapai ketinggian bermeter-meter, kadang-kadang sampai keatas pucuk pohon. Batang tanaman digunakan oleh masyarakat setempat sebagai tali untuk pengikat, atau keperluan lain, karena daya tahannya sangat kuat. Kantongnya yang belum membuka, berisi cairan yang dapat diminum dan untuk membersihkan mata, sedangkan anak-anak disekitar hutan selalu menggunakan kantongnya untuk mainan sehari-hari. Umumnya tanaman nepenthes ini memiliki 3 bentuk kantong yang berbeda meskipun dalam satu individu, yaitu kantong roset yang keluar dari ujung daun roset, kantong bawah atau kantong berada di tanah, yang dihasilkan oleh tanaman yang masih muda, kantong ini biasanya berukuran besar pada bagian dasarnya dan mempunyai sepasang sayap pada bagian depan kantong, sedangkan kantong atas yaitu kantong yang dasarnya sempit, kecil tidak bersayap.

Daunnya tersusun berselang-seling, memiliki sulur di ujungnya sebagai tempat menggantung kantong. Warna daun bermacam-macam, ada yang hijau, merah, keungu-unguan, dengan tekstur lembut, tebal dan berbulu. Bentuknya ada yang oval dan ada pula yang kecil memanjang.

Kantong memiliki tutup, taji, sayap dan sulur serta peristome (bibir). Pada beberapa jenis di bagian bawah tutup terdapat kelenjar nektar yang berfungsi menarik serangga, untuk mengunjunginya.

Mulut kantong disebut bibir atau peristome, yang beraneka pula warnanya. Warna dari peristome ikut menentukan nilai ekonomi tanaman ini, misalkan Nepenthes ampullaria, kantong hijau dengan bibir merah, atau Nepenthes ampullaria merah dengan bibir hijau atau kuning sangat disenangi para hobbiest dan kolektor. Kantong dengan bibir hitam sangat jarang dijumpai, sehingga harganya pun melambung tinggi.

Tanaman ini termasuk tanaman berumah dua (disius) artinya setiap tanaman memiliki satu jenis bunga, yaitu bunga jantan atau bunga betina saja. Tak tertutup kemungkinan bila dalam satu habitat tumbuh beberapa maka biasa terjadi penyerbukan silang antara spesies tersebut hingga nantinya akan menurunkan jenis hibrida baru yang terjadi secara alami.

*)Peneliti dan Penulis adalah Dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>