Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

Jamur Sawit

“Kehidupan masyarakat sekarang sangat baik. Ekonomi maju sejak sawit panen”. Seorang teman di Sosok memberitahu saya, saat kami bercakap-cakap seputar ekonomi dan pendidikan di Sosok. Sosok adalah nama kota kecil, ibukota Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau. Saya di sini, karena kebetulan mendapat tugas menjadi pengawas satuan pendidikan dari Perguruan Tinggi.

Tentang kehidupan ekonomi masyarakat Sosok dan sekitarnya, juga saya peroleh dari informan yang lain.

Mereka menyebutkan warga yang memiliki kebun sawit bisa panen dua kali dalam sebulan. Satu kali panen mereka bisa mendapatkan uang Rp3 juta. Jadi, jika dua kali panen dalam satu bulan mereka bisa mendapatkan Rp6 juta. Wow.

Jumlah itu tentu bukan jumlah yang kecil. Menurut ukuran saya jumlah itu sangat besar. Bayangkan, Rp6 juta. Dipotong beli beras, dan lain-lain, mestilah mereka bisa menabung antara Rp3-4 juta setiap bulan. Kesempatan mereka menabung sangat besar. Sebab pengeluaran mestinya sedikit.

Saya sengaja menyebut beras karena mungkin beras produksi sendiri tidak lagi mencukupi. Lahan sudah semakin sempit. Mereka juga mungkin sibuk jika harus mengurus padi dan sawit.

Tetapi, semestinya, mereka masih punya waktu untuk berkebun. Itu artinya sayur mayur mereka tidak perlu membeli. Jika pun membeli, hanya sesekali saja. Tidak setiap hari. Tidak berkebun pada tukang sayur keliling.

Panjang percakapan, rupanya bayangan saya tidak terwujud. Tidak semua masyarakat dapat menabung. Justru, ada mereka yang berhutang, seperti kebanyakan pegawai negeri yang saya kenal. Mereka ini berhutang di bank atau di CU. Mereka buat pinjaman, dan kemudian mencicilnya per bulan.

Banyak orang juga tidak sempat berkebun sayur. Lahan perkarangan menganggur. Ada banyak alasan untuk tidak berkebun. Ada yang bilang banyak ayam tetangga yang suka mengganggu. Ada yang bilang mereka malas berkebun karena tukang sayur selalu ada. Simple. Kasih uang sayur dapat. Tidak perlu repot kotor oleh tanah.

Masyarakat juga tidak bisa menabung karena sebagian lagi menjadi orang yang royal. Sebagai contoh, anak-anak kampung lebih suka membeli hp yang mahal.

“Pakai hp murah? Gengsi bah,”

Saya tersenyum. Teringat hp sendiri yang cuma sony ericsson keluaran lama. Second lagi. Harganya cuma seratus ribu lebih. Gengsi? Tidak. Segitu saja fungsinya. Mungkin setelah ini baru pakai hp mahal, yang banyak bisanya.

Bukan itu saja, sebagian orang katanya lebih suka menggunakan uang mereka untuk membeli minunam keras. Saya lupa bertanya, minuman keras jenis apa yang mereka sukai.

Saya mengiyakan informasi ini karena saya lihat hampir di semua warung minum, ada menjual minuman keras. Bahkan malam itu ketika sedang duduk di warung kopi menunggu pertarungan antara Chris Jhon dan Daud Jordan, sejumlah orang yang duduk di dekat saya menenggak minuman keras. Hati saya juga sempat ketar ketir kalau ada di antara mereka yang setengah mabuk dan meluruk.

Kata informan saya, sebagian lagi suka menghabiskan uang mereka untuk wanita penghibur sambil minum. Lho?

“Banyak Pak. Itu di sekitar sini banyak jamur sawit. Di situlah…”.

“Jamur sawit?”

“Ya, jamur sawit”.

Bah, saya kaget. Saya kira jamur sawit itu benar-benar jenis jamur yang bisa dimakan. Saya pernah mendengar sudah ada ilmunya bagaimana bertanam jamur mengandalkan limbah tandan sawit.

Tapi rupanya di sini beda. Bukan itu maksudnya.

Saya mengagak-agak, mungkin yang sama, orang lelaki itu bertanam jamur ke dalam liang itu, dan yang timbul kelak penyakit kelamin. Mereka bisa bertanam jamur karena mereka banyak uang dari hasil panen sawit. Entahlah.

Penulis: Yusriadi
Sumber: http://www.borneotribune.com/citizen-jurnalism/jamur-sawit.html
Senin, 25 April 2011 09:49

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>