Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

JC Oevaang Oeray, Mengorbankan sang Pencetus Pancasila

JC Oevaang Oeray (foto:dok/ist)

“Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima jumlahnya.

Namanya bukan Pancadharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman ahli bahasa, namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Demikian salah satu pidato Soekarno di Jakarta, 1 Juni 1945, dua bulan sebelum pengumuman Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Pasca-Dekret Presiden Soekarno, 5 Juli 1959, yang berisi: pembubaran Badan Konstituante hasil Pemilu 1955 dan penggantian Undang-Undang Dasar (UUD) dari UUD Sementara 1950 ke UUD 1945, pemerintah kemudian menetapkan setiap 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

Penetapan Pancasila sebagai ideologi negara merupakan keprihatinan terhadap implikasi perdebatan panjang kalangan anggota Konstituante, antara kelompok nasionalis dan Islam.

Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray dari Partai Persatuan Dayak (PPD) Provinsi Kalimantan Barat (kemudian menjadi Gubernur Kalimantan Barat, 1960966), adalah salah seorang yang pertama mengusulkan Pancasila sebagai ideologi negara di dalam sidang Konstituante di Bandung.

Menanggapi permintaan Presiden Soekarno di hadapan 530 anggota Konstituante di Bandung, 10 November 1956, supaya konstituante mampu menyusun konstitusi yang menjamin keselamatan, kesejahteraan rakyat, dan kebebasan beragama, selaku Ketua Fraksi Golongan Minoritas, JC Oevaang Oeray mengusulkan penetapan Pancasila sebagai ideologi negara.

Usulan Oeray kemudian didukung delapan anggota Konstituante lainnya, yakni Tjilik Riwut (Partai Nasional Indonesia Kalimantan Tengah), Atmodarminto (Gerakan Pendukung Pancasila Yogyakarta), Hadi Subeno (PNI Jawa Tengah), Arnold Mononutu (PNI Sulawesi Utara), Hardi (PNI Jawa Tengah), Ipik Gandamana (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Jawa Barat), AW Niuwenhuyn (perwakilan Timur Asing yang kebetulan bermukim di Kalimantan Barat), dan Ratu Aminah Hidayat (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Jawa Barat).

Konstituante seharusnya menerima Pancasila dan hanya perlu membuat perumusannya untuk dimasukkan UUD tanpa mengubah ideologi negara. Terlebih lagi karena perubahan apa pun terhadap ideologi negara akan mengubah negara yang sudah berdiri. Demikian kata Oeray dalam pidatonya [Risalah, 1957/V: 245-246, dan Risalah, 1957/V: 485-486].

Menurut Oeray, Pancasila terjadi bukan karena diciptakan, melainkan karena tumbuh dan berkembang dalam rahim Indonesia. Soekarno tidak menciptakan Pancasila, tetapi hanya menemukannya, menggalinya, atau secara bertahap mengakui unsur-unsurnya. Antara tahun 1927 dan 1933, ia (Bung Karno) menamakan penemuannya sebagai sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi.

Pada 1 Juni 1945, Soekarno mengumumkan penemuannya dan menamakannya Pancasila, supaya menjadi Weltanschauung bangsa Indonesia, sebagai dasar negara untuk negara baru yang akan dibentuk. Hal ini dikemukakan Oeray dalam pidato di Sidang Konstituante.

Dalam berbagai lobi antarpihak, sebetulnya sudah mulai ada kesamaan persepsi tentang UUD 1945 dan menerima Pancasila sebagai ideologi negara. Namun, dari beberapa hasil pemungutan suara, dan terakhir pada 2 Juni 1959, Sidang Konstituante belum berhasil mengantongi dua pertiga suara untuk menetapkan UUD 1945 dan Pancasila sebagai ideologi negara.

Ketika akan memasuki masa reses yang digunakan untuk melakukan lobi lebih intensif antaranggota, ternyata keluar Peraturan Penguasa Perang Pusat/Kepala Staf Angkatan Darat, 3 Juni 1959, Nomor Prt/Perperpu/040/1959 tentang larangan adanya kegiatan-kegiatan politik. Ini membuktikan upaya konstituante digagalkan secara sepihak oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD).

Presiden Soekarno kemudian mengeluarkan Dekret, 5 Juli 1959, untuk kembali kepada UUD 1945 dan membubarkan Konstituante. Ketua Konstituante, Wilopo, pernah menyatakan bahwa Konstituante sudah berhasil menyelesaikan 90 persen tugasnya. Seandainya majelis ini diberi kesempatan yang lebih fair, kata Oeray, suatu ketika dalam beberapa bulan lagi tanpa intervensi dari luar, niscaya Konstituante dapat merampungkan tugasnya.

Difitnah Terlibat PKI

Oeray dikenal sebagai orang dekat Presiden Soekarno atau Soekarnois. Setelah insiden pembunuhan enam jenderal Angkatan Darat di Jakarta, 30 September 1965, Oeray dituding oleh kalangan Partai Katolik dan Pemuda Katolik sebagai tokoh politik yang terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tuduhan dilontarkan dalam berbagai aksi unjuk rasa bersama komponen masyarakat lainnya di Pontianak, sebagai luapan eforia anti-Orde Lama.

Selanjutnya, Oeray diberhentikan dengan hormat sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Barat melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Basuki Rachmat, No UP 12/2/43-912 tanggal 12 Juli 1966. Oeray diberhentikan lebih cepat dua bulan 10 hari sebelum habis masa jabatannya, karena keputusan pemberhentian dengan hormat dari Presiden, baru turun 22 September 1966, dengan Nomor 207 Tahun 1966.

Percepatan pemberhentian itu bertujuan meredam berbagai aksi demonstrasi sejumlah pihak yang mendesak Oeray mundur dari jabatannya. Aksi demonstrasi pada dasarnya lebih disebabkan gerakan politik pembersihan terhadap pihak-pihak yang sebelumnya dinilai sebagai orang-orang dekat Presiden Soekarno.

Bahkan, insiden pembantaian sadis ribuan warga China di Kalimantan Barat dalam operasi penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/Persatuan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/Paraku) mencatut nama JC Oevaang Oeray melalui pengumuman di Radio Republik Indonesia regional Pontianak, pada 21 September 1967.

Penulis : Aju
Sumber: Sinar Harapan
31.05.2011 13:54
Didokumentasikan: 05 November 2011 | 23:41

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>