undangan Penyerahan Hadiah Lomba Bidang Perpustakaan 2014

undangan Penyerahan Hadiah Lomba Bidang Perpustakaan 2014

Pengumuman Lomba Perpustakaan Terbaik dan Pustakawan Berprestasi 2014

Pengumuman Lomba Perpustakaan Terbaik dan Pustakawan Berprestasi 2014

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

Sambas: Tali Kepala Merah Kembali Dikenakan

BAGAIKAN percikan bara terbakar, titik-titik api kerusuhan begitu mudahnya berpindah-pindah ke mana saja. Setelah keberingasan berlatar sentimen suku dan agama mulai reda di Ambon, kini bentrok berdarah antarsuku merebak di sekitar Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Sampai akhir pekan lalu, paling tidak tercatat 73 korban jiwa, sementara ribuan bangunan berubah menjadi arang. Truk-truk tentara, kapal patroli polisi, dan kapal perintis, sejak Rabu pekan lalu terlihat sibuk mengangkut ribuan warga suku Madura yang mengungsi ke Pontianak, ibu kota Kal-Bar. Pengungsi tersebut berasal dari Kecamantan Tebas, Pemangkat, Jawai, Sambas, Selakau, Samalantan, Sanggauledo–termasuk Kabupaten Sambas dan Kecamatan Tujuhbelas (Singkawang).

Warga Madura yang berasal dari tempat-tempat di sebelah utara Kota Pontianak ini-berjarak sekitar 5 jam perjalanan darat dari Pontianak-melarikan diri dari amukan masyarakat Melayu Sambas dan Dayak. Lelaki dan perempuan, anak-anak maupun orang dewasa yang ditaksir sekitar 13 ribu orang, memenuhi tempat penampungan di asrama haji kota Pontianak dan beberapa tempat lainnya.

Ini sebenarnya puncak dari pembunuhan dan kekerasan antarsuku yang terjadi sejak Januari lalu, pada hari pertama Idul Fitri. Pada saat umat Islam merayakan hari raya itulah ratusan massa etnik Madura dengan bersenjata tajam menyerang warga Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai, Sambas. Penyerangan dilakukan karena sebelumnya seorang pemuda Madura tertangkap tangan hendak mencuri di rumah seorang warga keturunan Melayu Sambas. Pencuri tersebut kemudian dipukuli massa hingga babak-belur. Pembalasan disiapkan. Ratusan warga Madura yang lain menyerang warga Paritsetia. Korban tewas jatuh, seorang Madura dan tiga warga Melayu ditemukan tanpa nyawa. Tapi ledakan lebih besar bisa dicegah setelah polisi menangkap tiga orang Madura dan empat warga Melayu yang dianggap biang keributan itu.

Namun api dendam belum padam benar. Dan sebuah kejadian kecil, pada minggu ketiga Februari, di Desa Pusaka, Kecamatan Tebas, memantik lagi api besar. Kernet bus yang Melayu memelototi penumpangnya yang ngemplang ongkos bus, yang kebetulan warga Madura. Tak senang dengan pandangan mata si kernet, si penumpang bus tak lama kemudian menyerang si kernet dengan senjata tajam. Akibatnya, jari tangan dan kaki kanan si kernet luka. Kejadian ini segera tersebar dan kerusuhan mulai merebak dari Pemangkat, menjalar ke Tebas, Jawai, dan ke desa-desa di pesisir pedalaman.

Kerusuhan yang berlangsung selama tiga hari itu mengakibatkan 17 orang tewas dan 65 rumah dibakar-sebagian besar milik warga Madura. Meskipun kerusuhan sempat mereda, ratusan warga Madura yang ketakutan mulai mengungsi ke Kantor Polisi Resor Sambas di Singkawang. Agar kerusuhan yang disertai pembantaian sesama warga tak berlanjut, pihak pemerintah Kal-Bar memprakarsai upaya damai antara masyarakat Melayu setempat dan warga Madura, 13 Maret lalu. Dalam perjanjian damai itu antara lain disebutkan bahwa sejak hari itu kedua belah pihak tidak diperbolehkan lagi menghunus senjata tajam. Namun pernjanjian itu tak bertahan lama. Keesokan harinya, seorang pemuda asal Desa Pusaka, Tebas, berkunjung ke Desa Semparuk, Pemangkat, sambil membawa senjata tajam. Tak senang karena diperingatkan, pemuda Madura tadi kemudian terlibat perkelahian. Suasana kembali memanas. Warga Madura yang tinggal di Desa Pantai, Semparuk, Harapan, Lonam, dan Perapakan diserbu. Ratusan rumah warga Madura dibakar dan sekali lagi puluhan nyawa melayang.

Roda kehidupan di wilayah Sambas dan sekitarnya terhenti total. Bila fajar menyingsing, warga Melayu berikat kepala sehelai kain kuning berkeliling kota di atas mobil-mobil dengan bak terbuka sambil membawa segala jenis senjata tajam dan bahkan beberapa senjata api lantakan. Setiap kendaraan yang melewati pos-pos penghadangan mereka diperiksa, penumpang bersuku Madura dicari. Petugas keamanan yang mencoba menghalang-halangi perilaku warga tadi tak bisa berbuat banyak karena jumlah petugas yang terbatas. Begitu pula sebaliknya, warga Madura juga membalas menyerang warga Melayu.

Kerusuhan semakin buruk ketika Selasa pekan lalu sebuah truk yang membawa para pekerja jalanan dihadang oleh serombongan warga Madura di Desa Gersik, empat kilometer dari Pemangkat-40 kilometer dari Singkawang. Penghadang kemudian melepaskan tembakan dari senjata lantakan mereka. Tiga orang tewas, salah seorang bernama Martinus Amat, yang ternyata berasal dari suku Dayak. Perang pun meluas. Konflik yang awalnya antara etnis Melayu dan Madura kemudian melebar menjadi Madura melawan Melayu dan Dayak. Seusai menguburkan jenazah Amat, massa Dayak–menggunakan ikat kepala merah–yang berkumpul langsung menyerbu pemukiman-pemukiman Madura. Kematian Amat seakan membangkitkan kembali kesumat lama warga Dayak terhadap warga Madura yang pernah saling membunuh dan menyebabkan setidaknya 500 jiwa melayang pada Desember 1996 hingga Maret 1997 lalu. Diperkirakan dua ribu orang Madura waktu itu diungsikan. Sekarang ini, puluhan rumah warga Madura di sekitar Kecamatan Salamantan dibakar. Korban jiwa pun bertambah.

Malam harinya, massa Dayak dari Sanggauledo-tempat bermulanya kerusuhan Dayak-Madura dua tahun lalu-menyerbu Desa Jirak, Kampung Jawa, dan desa lainnya. Warga Madura yang bisa menyelamatkan diri kemudian diungsikan ke kompleks Angkatan Udara setempat. ”Perbuatan mereka sangat menakutkan,” kata Nyonya Marjan, seorang pengungsi di Asrama Haji, kepada koresponden TEMPO di Pontianak. Nyonya ini takut peristiwa perang suku Dayak versus Madura dua tahun lalu berulang. Dan kelihatan jelas bahwa ledakan kali ini akan meluas jika tak segera ditangani. Pembunuhan dan pembakaran rumah belum juga berhenti. Hampir setiap hari ada korban tewas, sampai Sabtu pekan lalu. Kekejian seperti peristiwa Sanggauledo juga terulang. Ada mayat korban yang dipotong, kemudian-astagfirullah-mayat itu digatung di pinggir jalan di pasar Kecamatan Tebas.

Kapankah saling jagal ini akan berakahir? Belum ada yang bisa menjawab dengan pasti. Namun penambahan aparat keamanan ke wilayah yang dilanda kekerasan itu terus berlangsung. Sepuluh satuan setingkat kompi (SSK) tentara dan 9 SSK polisi–sekitar 2.800 personel–sudah diterjunkan di wilayah Sambas. Sedangkan 900 anggota Brigade Mobil sudah pula disiagakan. Para pejabat di Kalimantan Barat juga sudah merancang sebuah upaya damai di antara pemuka masyarakat dan agama. Langkah awal sudah dimulai dengan munculnya permintaan maaf secara tertulis dua pemuka masyarakat Madura di Kal-Bar, Haji Tarap dan Haji Syafruddin, kepada masyarakat Melayu dan Dayak.

Doktor ilmu sosial dari Universitas Tanjungpura, Pontianak, A.B. Tangdililing, menunjuk perbedaan budaya antara masyarakat pendatang dan warga setempat sebagai akar penyebab ketegangan antaretnis tersebut. Dikatakan bahwa sikap menghormati posisi masing-masing merupakan faktor penting dalam peristiwa ini. “Ketegangan budaya ini kemudian menjadi pertikaian yang dipicu oleh konflik ekonomi di antara keduanya,” kata Tangdililing.

Jika kejadian-kejadian konflik horizontal belakangan dipetakan-Ambon, Ketapang, dan Sambas-ada yang seragam, yaitu konflik individu yang meluas menjadi konflik komunal. Seperti kata sosiolog Ignas Kleden, itulah bukti belum terciptanya masyarakat sipil yang kuat. Masyarakat yang lemah-apalagi dihajar krisis dari segala penjuru-kapan saja mudah meledak. Rustam F. Mandayun dan koresponden Pontianak

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1999/03/23/NAS/mbm.19990323.NAS94089.id.html
23 Maret 1999

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>