undangan Penyerahan Hadiah Lomba Bidang Perpustakaan 2014

undangan Penyerahan Hadiah Lomba Bidang Perpustakaan 2014

Pengumuman Lomba Perpustakaan Terbaik dan Pustakawan Berprestasi 2014

Pengumuman Lomba Perpustakaan Terbaik dan Pustakawan Berprestasi 2014

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

Tengok Telok Melano Tepian Negeri Ipin-Upin

TEMPO.CO, Matahari malu-malu di balik awan di Dusun Camar Bulan Kecamatan Temajuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Sabtu, 7 Januari 2012. Saat itu Tempo bersama rekan dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat berkesempatan mengunjungi sebuah desa bernama Telok Melano, Serawak, Malaysia. Desa itu merupakan sebuah desa yang berada di perbatasan Malaysia-Indonesia.

Kami berangkat dari Kecamatan Temajuk dengan mengendarai sepeda motor, diantar oleh beberapa warga sekitar. Beberapa warga itu mengaku, untuk menuju Desa Telok Melano, masyarakat Camar Bulan tak perlu menggunakan paspor atau tanda pengenal. “Ya, tinggal lewat saja, tidak ada petugas (tentara perbatasan) yang jaga,” ujar Rahmat, salah satu warga Temajuk yang memboncengi Tempo.

Katanya, jarak Kecamatan Temajuk dengan Telok Melano hanya sekitar tiga kilometer atau membutuhkan waktu sekitar 15 menit bersepeda motor. Usai azan zuhur, kami berangkat. Jalan yang kami lewati tak begitu lebar, hanya dapat dilalui dua sepeda motor. Kontur jalan cukup menantang. Terjal, berbatu, diselingi tanah becek sangat licin karena hujan sempat mengguyur hebat sehari sebelumnya.

Dalam perjalanan, kami melewati berderet rumah warga yang hampir semuanya terbuat dari kayu. Sangat sederhana. Tampak penghuni rumah banyak duduk-duduk di luar rumah sambil bercengkerama satu sama lain. Anak-anak sesekali melambaikan tangan saat kami melintas.

Selama perjalanan, kami juga melalui beberapa sungai kecil dengan jembatan yang dibuat dari batang-batang kayu yang dijejer rapi. Cukup menegangkan saat roda sepeda motor yang Tempo tunggangi meniti di atasnya. Seperti mau jatuh rasanya.

Sekitar tujuh menit kami tiba di gerbang perbatasan Indonesia-Malaysia. Dalam benak Tempo, gerbang perbatasan dua negara berupa gerbang besar, berpalang, dan dijaga oleh tentara. Namun pikiran itu pun sirna.

Gerbang itu hanya berupa gapura sederhana yang terbuat dari kayu. Ukurannya pun bisa dibilang mungil. Tingginya sekitar tiga meter dengan lebar tak lebih dari empat meter. Hanya ada tulisan “Selamat Jalan” di atas gapura tersebut.

Selanjutnya perlahan kami pun memasuki teritorial Negeri Jiran. Karena wilayah yang kami kunjungi ini sama-sama desa, maka tak banyak perbedaan permukiman antara Telok Melano dengan Temajuk. Kontur wilayahnya pun tak jauh berbeda, sama-sama di tepi pantai berpasir putih yang bersih. Bahasa yang digunakan kedua desa ini pun sama, bahasa Melayu.

Namun, dilihat dari fasilitasnya, jelas jauh berbeda. Sebagai contoh, terdapat kantor polisi bertuliskan ‘Pondok Polis Telok Melano Serawak’. Bangunan kantor polisi tingkat desa itu tampak bagus dari luarnya. Tak terlalu besar, hanya berukuran sekitar 7 x 5 meter bercat putih dan terawat.

Selain itu terdapat satu sekolah yang cukup megah bernama Sekolah Kebangsaan Telok Melano YBA 1406. Menurut Rahmat, sekolahan tersebut dibangun pemerintahan Malaysia sejak beberapa tahun lalu. Bisa dibilang sekolahan yang memiliki gedung empat lantai itu komplet. “Mulai SD, SMP, sampai SMA jadi satu,” ujarnya. Selain itu terdapat lapangan rumput yang digunakan untuk sarana kegiatan siswa seperti olahraga dan upacara.

Jarak sekitar 100 meter dari sekolah terdapat empat tiang tinggi dengan baling-baling yang berputar di atasnya. Kata Rahmat, itu pembangkit listrik tenaga angin. “Yang bikin pemerintahnya (Malaysia),” ujarnya siang itu. Dia mengatakan masyarakat Desa Telok Melano beruntung karena hampir tiap malam cahaya lampu bersinar terang di dalam rumah. Selain itu, menurut Rahmat, di Desa Telok Melano, juga sudah dialiri air bersih. Tidak seperti Dusun Camar Bulan, Kecamatan Temajuk, air bersih menjadi barang mewah.

Sekitar 50 meter dari sekolahan tersebut terdapat warung kelontong yang cukup ramai. Tempo pun tertarik untuk melangkahkan kaki ke sana. Warung kelontong ini rupanya menyatu dengan rumah si empunya. Walidah, itulah nama perempuan paruh baya pemilik warung. Barang yang ia jual berupa barang kebutuhan pokok, seperti aneka bahan makanan, minuman, sabun mandi dan cuci, serta kebutuhan lainnya.

Warung berukuran 4 x 3 meter ini sistemnya mirip swalayan. Pembeli tinggal mengambil barang yang diperlukan sendiri. Usai itu, membayarnya di meja kasir. Sayang, perempuan berjilbab ini tak mau berbicara banyak kepada Tempo. Ia sibuk melayani para pembeli.

Dengan bahasa Melayu yang sama dengan bahasa dalam serial kartun Malaysia Ipin-Upin, Walidah mengatakan bahwa warungnya ini menerima dua mata uang: rupiah dan ringgit. Alasannya banyak juga masyarakat Temajuk yang belanja di warungnya. “Hampir tiap hari ada yang beli (warga Temajuk, Indonesia),” ujarnya.

Untuk nilai tukar, ia konversi satu ringgit Malaysia dengan tiga ribu rupiah, begitu pun sebaliknya. Umumnya para pembeli dari Indonesia mencari barang yang tak dapat dijumpai di desanya. “Seperti susu formula, minuman ringan, dan bahan pangan lain,” ujarnya.

Tempo pun bertemu seorang pembeli asal Desa Temajuk. Wati namanya. Perempuan ini mengaku menempuh jalan yang cukup terjal dan jauh dengan sepeda motor untuk membeli susu anaknya. “Kalau ini (susu) tidak ada di Temajuk,” ujarnya.

Namun ia tak keberatan untuk menempuh perjalanan hingga Desa Telok Melano. Sebab, jika mencari barang serupa di Indonesia, dia harus pergi ke Kabupaten Sambas yang jaraknya hampir 100 kilometer. “Jalan-jalan licin tancap saja, kan lebih dekat,” katanya.

Namun ia menyayangkan harga barang di warung ini lebih mahal ketimbang barang serupa yang dijual di wilayah Indonesia. “Soalnya kan selisih rupiah ke ringgit cukup tinggi,” ujarnya. Tapi, lanjut dia, kesempatan berbelanja di warung ini sekaligus ia gunakan untuk menengok saudaranya yang warga negara Malaysia dan tinggal di sana.

Saat ditanya mengenai ada tidaknya diskriminasi warga Temajuk, Indonesia, saat berbelanja atau berada di Telok Melano, Malaysia, Wati pun dengan lantang mengatakan tidak ada. Dia mengatakan bahwa warga Temajuk dan Telok Melano sejak dahulu selalu rukun. “Tidak pernah bertengkar-bertengkar gitu, akur,” ujarnya.

Ditemani Wati, Tempo pun melihat-lihat barang dagangan di warung itu. Banyak sekali produk-produk asli Malaysia yang begitu asing bagi Tempo. Tentunya dengan tulisan bahasa melayu yang menurut Tempo agak aneh dan membingungkan. Akhirnya Tempo tertarik membeli beberapa bungkus mi instan buatan Malaysia yang memiliki perasa tak lazim di Indonesia, yaitu rasa asam laksa.

Satu bungkus mi instan Malaysia dihargai satu ringgit tiga sen, sekitar Rp 3.500. Memang cukup mahal untuk sebungkus mi instan. Sebagai perbandingan, mi instan Indonesia satu bungkusnya tak lebih dari Rp 2.000.

Selain itu Tempo juga membeli beberapa makanan ringan yang cukup menarik mata. Namun, jika dihitung-hitung, perbandingan harganya mirip dengan mi instan yang sebelumnya dibeli. Tapi tak apalah, lumayan mencicipi produk Negeri Jiran sekaligus untuk bekal di perjalanan selanjutnya.

Usai mengambil beberapa barang, Tempo pun menghadap kasir dan mengeluarkan beberapa lembar rupiah. Benar saja, uang kembalian Tempo juga berupa rupiah. Walidah juga mengaku warungnya menerima jasa pertukaran uang. Kerennya money changer-lah, namun masih dalam skala kecil. “Tapi ada cash-nya,” ujarnya.

Siang itu seketika berubah mendung gerimis saat Tempo dan rombongan meninggalkan warung Walidah. Roda sepeda motor yang Tempo tumpangi kembali berjalan menyisir jalan-jalan desa di luar negeri ini. Walaupun hanya sebatas desa, tapi cukup menarik dan seru bisa jalan-jalan di negeri orang.

INDRA WIJAYA
Sumber: Tempo.co
Minggu, 15 Januari 2012 | 14:18 WIB

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>