Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

Tokoh Agama Dilatih Mediasi Konflik Pontianak

PONTIANAK – Konflik bisa terjadi kapan saja dalam skala kecil maupun besar. Tokoh agama memegang peranan penting sebagai panutan dalam lingkungannya sehingga bisa menjadi mediator penengah konflik.

“Tokoh agama di suatu daerah biasanya tempat masyarakat mengadu dalam berbagai hal. Tidak hanya ketika menemukan masalah agama saja, bahkan juga dalam konflik. Oleh karena itulah, tokoh agama juga perlu dibekali pengetahuan bagaimana menjadi mediator konflik yang baik,” ungkap Ketua FKUB Kalbar, Dr H Moh Haitami Salim MAg, Senin (27/2).

Kondisi tersebut mendasari “Training Mediation Conflict” yang dilaksanakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalbar melalui bimbingan kepada tokoh agama sebagai mediator konflik.

Dijelaskan Haitami, jika seseorang yang ingin menjadi penengah di antara orang yang bertikai jika tidak dibekali pengetahuan. Bukan menyelesaikan, malah menambah masalah baru. Sehingga perlunya keterampilan, keahlian dalam memediasi konflik.

“Nah pada training itulah kiat-kiatnya diberikan. Apalagi tokoh agama walaupun di luar dari FKUB, dianggap orang yang punya pengetahuan lebih. Sehingga masalah apa pun yang tidak berkaitan dengan agama minta selesaikan dengan mereka. Misalnya sengketa tanah, orang yang mau bercerai dan lain sebagainya. Jadi wajar tokoh agama harus diberikan pengetahuan tambahan,” papar Haitami.

Dengan harapan setelah mereka mengikuti training ini bisa menjadi penengah yang baik. Ke depan juga akan melibatkan tokoh etnis dan aparat keamanan. Sehingga aparat keamanan dalam menyelesaikan masalah tidak semata mengandalkan senjata saja.

Walaupun adanya training ini tidak ada kaitannya dengan momentum pilgub, tetapi nanti akan banyak manfaatnya. Karena konflik tidak bisa terduga. “Konflik berwajah agama, berlatar belakang etnik, suku, ras, dan golongan, apalagi konflik yang jelas-jelas bernuansa politis muncul silih berganti di negeri ini. Tak terkecuali Kalimantan Barat, merupakan salah satu provinsi yang rentan terjadinya konflik yang melibatkan entitas golongan maupun etnik yang ada,” tambah Haitami.

Intensitas konflik di Kalbar relatif cukup tinggi dan berskala massif. Meskipun secara eksplisit konflik di Kalbar diidentifikasi sebagai konflik etnis, namun bukan berarti faktor agama tidak berpeluang mendorong terjadinya konflik serupa.

“Karena untuk kasus Kalbar, di samping isu etnis yang agak sensitif, faktor agama juga kadang-kadang menimbulkan ketegangan antarkelompok beragama. Meskipun banyak yang memandang konflik sebagai sebuah hal yang negatif, namun bukan berarti konflik tidak bisa dikelola,” kata Haitami yang juga Direktur Pascasarjana STAIN Pontianak ini.

Menurutnya, untuk mengelola sebuah konflik diperlukan seperangkat pengetahuan dan skill agar konflik yang muncul dapat menjadi dasar bagi perubahan yang konstruktif di masa yang akan datang. Untuk itu perlu pengetahuan terhadap konflik itu sendiri, bagaimana ia dipahami, didekati, dikelola dan diselesaikan.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengelola sebuah konflik yaitu melalui mediasi sebagai suatu proses penyelesaian persengketaan yang diselenggarakan di luar pengadilan.

“Pihak-pihak yang bersengketa meminta atau menggunakan bantuan dari pihak ketiga yang netral untuk membantu menyelesaikan masalah mereka,” kata dia. (kie)

Penulis: Kiki Supardi
Sumber: Equator-news.com
Selasa, 28 Februari 2012
Diakes: 10 Maret 2011 | 14:44
Didokumentasikan: 10 Maret 2011 | 14:44

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>