Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Hari Kunjung Perpustakaan 2013

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

Tradisi Pokok Telok jadi Peluang Usaha Ibu Rumah Tangga: Asesori Prosesi Pernikahan

Ernawati menyusun pokok teloknya/Foto CHAIRUNNISYA/PONTIANAK POST

Tradisi suatu daerah bisa menjadi peluang usaha. Salah satunya tradisi membawa pokok telok dalam prosesi pernikahan yang memberi penghasilan bagi ibu rumah tangga. Pada waktu tertentu, pesanan bisa meningkat hingga 150 persen. Mereka pun bisa memberdayakan ibu rumah tangga lainnya.

ERNAWATI sibuk menyusun rangkaian bunga dalam sebuah wadah berbentuk pot. Terdiri atas berbagai macam warna. Bentuknya hampir sama dengan bunga hiasan lainnya. Tetapi jika diperhatikan dari dekat, ada perbedaan antara bunga yang disusun Ernawati dengan bunga hiasan lainnya. Pada bagian tangkai yang terbuat dari bambu, terdapat cantolan besi melingkar-lingkar dan berisi telur. Satu tangkai bunga tersebut biasa disebut pokok telur.”Sebenarnya pokok telur ini tak hanya berbentuk bunga. Ada juga kupu-kupu atau burung,” ujar Ernawati sambil menunjukkan satu pokok telok dengan hiasan berbentuk burung, kemudian memasukkannya ke dalam wadah.

Ibu dari tiga anak ini menjelaskan pokok telok biasa ditemukan dalam acara pernikahan. Pada tradisi masyarakat Melayu, pokok telok termasuk dalam salah satu jenis barang hantaran. Disebut pokok telok karena setiap satu tangkai terdapat sedikitnya satu butir telur. ”Tradisi di sini seperti itu. Biasanya belum lengkap kalau belum ada pokok telok dalam pernikahan adat Melayu,” katanya.Peluang ini pun dilihat Ernawati. Walaupun menyandang gelar Sarjana Ekonomi, ia memilih menjadi ibu rumah tangga karena harus mengurus ketiga anaknya, yang jarak usia satu anak dengan lainnya hanya setahun. ”Saya ingin punya penghasilan tetapi bekerja di rumah. Saya mulai dengan membuat bunga lidi, sarung toples, dan akhirnya pokok telok. Semuanya saya pelajari otodidak,” ungkap Ernawati.

Tak lama belajar membuat pokok telok. Hanya sebulan saja. Setelah itu ia pun menerima pesanan. Pertangkainya dijual rata-rata dengan Rp10 ribu. Setiap bulannya Ernawati mampu menjual sedikitnya 200 tangkai pokok telok.Pesanan meningkat jika menjelang Ramadhan dan setelah Idul Fitri hingga Idul Adha. Pesanan mencapai 500 tangkai. ”Karena saat itu banyak yang menikah. Saat ini saya dibantu empat tetangga dalam mengerjakannya. Semuanya ibu rumah tangga juga,” katanya.Penghasilan dari pokok telok juga diperoleh Nadia. Perempuan kelahiran 11 September 1964 ini mulai menerima pesanan pokok telok sejak lima tahun lalu. Ketika itu ia masih bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta. ”Saya melihat tradisi dalam pernikahan di Kalbar cukup kental. Saya melihat peluang ini. Saya pun membuatnya. Selain itu juga ada suvenir lainnya,” katanya.Ketika usahanya mulai berkembang, Nadia pun memilih berhenti kerja dan fokus pada usahanya. Pokok telok yang dijualnya tak hanya di Kalbar, tetapi juga sampai ke Pulau Jawa.”Biasanya, orang Pontianak kalau menikah di Jawa, tetap ada hantaran pokok teloknya,” katanya. (*)

Penulis: CHAIRUNNISYA/PONTIANAK POST
Sumber: http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=89439
Sabtu, 09 April 2011 , 08:58:00

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>