undangan Penyerahan Hadiah Lomba Bidang Perpustakaan 2014

undangan Penyerahan Hadiah Lomba Bidang Perpustakaan 2014

Pengumuman Lomba Perpustakaan Terbaik dan Pustakawan Berprestasi 2014

Pengumuman Lomba Perpustakaan Terbaik dan Pustakawan Berprestasi 2014

Categories

IP

Visitors

Geovisitor


free counters

Bingung cari software canggih, gratis dan legal???

Warga Perbatasan Berbahasa Malaysia: Tak Bisa Bahasa Indonesia dan Buta Huruf

Perbatasan Kalimantan-Malaysia KOMPAS/TRI HARIJONO

ENTIKONG, KOMPAS.com — Sekitar 15 dusun di sepanjang perbatasan Sanggau, Kalimantan Barat (Indonesia), dan Sarawak (Malaysia) mengalami permasalahan tidak lancar berbahasa Indonesia dan buta huruf karena minimnya pembangunan bidang pendidikan di daerah tersebut. Sebagian besar masyarakat yang menetap di wilayah pelosok terpencil perbatasan Indonesia-Malaysia menghadapi permasalahan dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, demikian dilaporkan dari Entikong, Rabu (14/7/2010).

Sulitnya masyarakat perbatasan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia itu juga dirasakan ketika mengunjungi warga yang menetap di delapan desa perbatasan yang terisolasi, di antaranya Desa Palak Pasang, Suruh Tembawang, Sungkung Satu, Dua, dan Tiga, Desa Unjak, Tawang, dengan jarak tempuh tujuh sampai delapan jam menggunakan transportasi sungai. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak dengan jarak tempuh terdekat 5 sampai 12 jam. Rata-rata mereka tidak berpendidikan, khususnya para orang tuanya tidak paham bahasa Indonesia, dan dalam berkomunikasi selain menggunakan bahasa daerah, mereka lancar menggunakan bahasa Melayu Malaysia.

Seorang warga bernama Amai, dari Dusun Batu Ampar Sungkung, masuk wilayah Kabupaten Bengkayang, hanya bisa menggunakan bahasa daerah Sungkung Akit untuk berkomunikasi. Menurut pemuda berumur 34 tahun itu, dirinya tidak pernah mengenyam pendidikan karena di masa usia sekolah dahulu tidak ada sarana pendidikan di daerahnya.

Kondisi serupa diakui Dadak, warga Dusun Pool Entikong, bahwa di daerah Sungkung, Desa Pelosok, merupakan daerah terisolasi. “Karena terisolasi dan minim pembangunan bidang pendidikan, warga yang menetap di wilayah perbatasan tidak lancar bahasa Indonesia,” katanya. Ia mengatakan, sekitar 15 dusun warga yang menetap di sepanjang perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau, dengan penduduk rata-rata 700 jiwa, 30 persen di antaranya tidak bisa berbahasa Indonesia dan buta huruf. Sementara itu, Camat Entikong, Ignatius Irianto, mengakui kondisi ketertinggalan masyarakat yang tinggal di wilayah beranda negara Indonesia itu.

Editor: Ignatius Sawabi
Sumber: http://regional.kompas.com/read/2010/07/14/12285391/Warga.Perbatasan.Berbahasa.Malaysia
Rabu, 14 Juli 2010 | 12:28 WIB

Leave a Reply

  

  

  


*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>